Seandainya
semua seandainya yang terucapkan menjadi
kenyataan.
Terlalu
banyak seandainya dalam hidup ini, ada
harapan yang terkubur dibalik kata itu. Dan banyak juga yang hanya berakhir di seandainya tanpa mampu menjadikannya
nyata.
Seperti saat
ini, aku duduk bernostalgia sambil menatap langit mendung dan berkata
“seandainya...”.
Memang benar
yang orang-orang katakan bahwa tidak
semua yang dibayangkan bisa menjadi kenyataan. Pada akhirnya seandainya merupakan suatu kata yang
hanya bisa diucapkan ketika yang dibayangkan tidak menjadi kenyataan.
Masa lalu
gak mungkin bisa diulang lagi. Apalagi masa depan, gak bisa dipastikan. Semua
yang terjadi sudah termasuk dalam kehendak Tuhan. Kita hanya bisa berencana,
Tuhan yang merestui.
Terlalu
banyak seandainya sebenarnya
menandakan kita yang gak tau bersyukur.
Intinya
seperti kata D’Masiv :
"Syukuri apa
yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang
terbaik. Tuhan pasti ‘kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya
yang sabar dan tak kenal putus asa.Jangan
menyerah!"
If only...
If only people stopped for a second to appreciate what
they have instead of crying for what they haven’t got yet.
If only people looked at the sky instead of looking at the blank of sadness.
If only people were doing what they actually love instead of living a life full
of life.
If only people said what they thought instead of wrapping their words and
losing their meaning.
If only people were true and kind.
If only people were themselves.
If only.
Ini cuma curhatan aku tentang hari kemarin, 18 Maret 2017.
Kemarin, diawali dengan bangun jam 5 pagi gegara kebelet boker, haha. Trus aku langsung mandi, setrika pakaian, dan siap siap deh cuss ke kampus.
Bayangin aja, pagi-pagi di hari sabtu yang indah aku ngampus, kurang rajin apa coba.
Haha gak ding, aku ke kampus untuk ikut Psikotest Pertamina.
Jadi critanya tanggal 5 Januari lalu aku daftar Program D3 College Shoping PT Pertamina, trus tanggal 15 Maret aku dapet telpon yang bikin senyum senyum sepanjang hari kek orang yang baru ketemu lagi setelah sekian lama lost contact pas lagi cinta-cintanya, kebayang gak rasanya gimana? Nah, saat itu aku kayak gitu tuh pas udah ditelpon sama mbak mbak dari Pertamina, padahal si mbak cuma nyuruh cek email yang setelah aku cek isinya adalah surat panggilan tes psikologi di kampus.
Jam 7 pagi aku sampai di kampus, bertemu dengan sahabatku dan teman-teman yang kurang lebih 3 tahun udah gak pernah ketemu sejak lulus kuliah. Masih tetap sama, hangat dan gila seperti dulu. Yang berbeda hanya satu, perjuangan dan tantangan hidup sekarang lebih besar ketimbang 3 tahun lalu. Dan kemarin, kami sama-sama berjuang untuk tantangan yang lebih besar, haha.
Psikotest dimulai jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Parahnya aku gak sarapan sama sekali, jadi kalau nanti kalian ada panggilan tes mending sarapan deh biar lebih konsentrasi, jangan kayak aku yang perutnya bunyi berkali-kali dan gedenya ngalahin tenonenot bus 'om telolet om' pas lagi hening-heningnya ngerjain soal.
Awalnya kita disuruh ngisi riwayat hidup setelah itu baru soalnya dibagikan. Lumayanlah, hampir 200 nomor, ada soal deret, hitung-hitungan sederhana, analogi kata, problem solving, logika penalaran, sama tes kemampuan memori.
Setelah itu tes Pauli, itu lho yang ngejumlah-jumlahin angka di selembar kertas koran timbal balik isinya angka semua. Goddamit! Aku sampe pusing banget liatnya. Lanjut lagi dengan tes Wartegg, gambar pohon, gambar orang, yang terakhir tes DISC personality.
Kelar tes kita dikasih snack dan disuruh tunggu pengumuman yang lulus akan langsung tes wawancara psikologi.
Dari hampir 100 orang yang ikut tes, hanya 14 orang yang diyatakan lolos ke tahap wawancara. Dan keputusannya, ternyata kami termasuk ke dalam orang-orang yang kurang beruntung, sedihnya.
Demi menghilangkan kegundahan, aku dan sahabatku mencari pelampiasan. Es teler dan danau pun menjadi pilihan terbaik.
Sambil minum dan curhat-curhat, sahabatku langsung nyanyiin happy birthday ke aku. Bahagiaku sesederhana itu. Walaupun sebelumnya dia udah modus bicarain tentang perpanjang KTP dan minjem KTPku untuk liat tanggal lahir karena dia lupa kapan aku ultah, hahah.
Aku pernah denger orang bilang "biarkan dirimu bahagia, dan jangan menggantungkan kebahagianmu di tangan orang lain." Aku setuju dengan itu, tapi untuk saat ini, terima kasih Ani udah buat aku seneng ditengah kesedihan.
Trus pas sampe rumah, buka FB, dapet kiriman ginian dari sahabat tersayang, Vhya. Paling ngerti deh hahaha
Aku juga sangat beruntung punya keluarga yang sangat peduli, thankiss
BAHAGIA, satu kata saat mendarat di Ambon untuk yang kedua kalinya.
Tapi kali ini adalah pertama kalinya aku ke kampung halaman Opa di Pulau Haruku. Sebuah pulau kecil di Maluku Tengah, tepatnya di sebelah timur Pulau Ambon. Untuk sampai di pulau ini butuh waktu sekitar 15 menit naik speed boat dari Pelabuhan Tulehu, Ambon.
Sumber: http://www.kewang-haruku.org/
Pertama kali denger kata Haruku aku pikir ada sangkut pautnya sama Jepang, padahal gak ada sama sekali. Bahasa aslinya sih Haru-Ukui yang artinya ujung pohon baru/waru.
Pulau Haruku terbagi dua bagian utara dan selatan, yang bagian utara ada Negeri Ruhumoni, Kabau, Kailolo, Pelau, Kariu dan Hulaliu, atau biasa disebut Hatuhaha (batu atas). Kalo yang bagian selatannya ada Negeri Haruku, Samet, Oma, Wasu dan Aboru, biasa disebut Hatulolu (batu bawah).
Sumber: http://betalekry.blogspot.co.id/
Nah, kampungnya opa-ku di Negeri Haruku. Saat speed boad berlabuh di jembatan negeri, yang pertama
kali aku lihat di sebelah kanan adalah patung Mr. Johannes Latuharhary, beliau adalah putra
Haruku yang juga pahlawan nasional dan Gubernur pertama
Maluku. Disamping patung itu ada deretan meriam sisa peninggalan kolonial
Belanda.
Tidak jauh dari situ, ada Gereja yang juga menjadi icon Negeri Haruku yang notabene masyarakatnya beragama Kristen. Gerejanya masih dalam tahap pembangunan, diperkirakan akan selesai dan diresmikan pada tahun 2017 ini.
Jembatan Negeri Haruku
Patung Mr. Johannes Latuharhary, Haruku - Maluku Tengah
Gereja Haruku
Foto Gereja pada saat air surut
Di sisi kiri, bersebelahan dengan Baileo Negeri (kantor
kepala desa), terdapat satu tugu yang menjadi kebanggaan masyarakat adat
Haruku. Patung seekor buaya yang punggungnya terdapat lima ekor ikan
lompa dan pohon simbol kalpataru, penghargaan yang diperoleh Negeri
Haruku pada tahun 1985. Dibawahnya ada simbol Negeri Haruku yang
bertuliskan Pelasona Nanuroko, terdiri dari 3 kata yaitu Pela : persekutuan, sona: taputar/lingkaran, dan nanuroko: baranang lalu loko (berenang kemudian ambil).
Buaya inilah yang menjadi legenda tetang
ikan lompa yang terkenal dengan ritual tutup dan buka sasi lompa. Sasi
lompa adalah larangan untuk mengambil ikan lompa, sejenis ikan sarden, yang berguna untuk menjaga kualitas dan populasi laut sampai ditetapkan satu hari untuk melakukan ritual buka sasi. Dalam
ritual itu seluruh masyarakat dapat menikmati hasil panen ikan lompa
itu. Kebetulan aku juga ikut panen nangkep ikan lompa, seru tapi harus
siap berkotor-kotor ria. Ribuan hasil panen ikan itu tidak dijual, tetapi harus diolah, dikeringkan, dan disimpan untuk bekal selama setahun.
Tugu Kalpataru, Haruku - Maluku Tengah
Aku di sana cukup lama kurang lebih 3 bulan, dari bulan Oktober sampai Desember 2016. Asiknya disana karena tiap hari bisa santai di pantai, pasir putih di sepanjang jalan. Trus bisa sok-sokan hiking jadi anak gunung, sekalian diet sih hehe dan terbukti berhasil, lumayanlah 8 kg ilang.
Asiknya juga masyarakat disana baik banget. Walau suara mereka cukup menggelegar saat berbicara, tetapi mereka sangat ramah dan peduli satu dengan yang lain. Aku paling tertarik pada kebiasaan mereka saat kasi suara (menyapa) kalo ada orang lewat. Hm kayaknya memang begitu gaya hidup masyarakat di kampung, tapi yaaa karena aku baru ngerasain makanya kesenangan sendiri pas disapa. Sebenernya aku kurang terlalu suka berbasa-basi tidak jelas kayak gitu, tapi bagus juga akhirnya mau tidak mau aku jadinya lebih bersosialisasi lagi dengan orang-orang disekitar, hehe.
Tanjung Totu, Negeri Haruku - Maluku Tengah
Sunset di kampung baru, Negeri Haruku - Maluku Tengah
Di Haruku ada populasi burung maleo, salah satu jenis burung yang
sudah mulai langkah. Jumlahnya diperkirakan kurang dari 10 ribu ekor,
jadi ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi karena banyak orang yang
suka seenaknya ngambil telurnya. Padahal nih yah, burung ini langsung
pingsan setelah bertelur, karena telurnya besar banget, bisa 5 kali
lebih besar dari telur ayam kampung.
Mata pencaharian utama disana adalah nelayan dan petani cengkeh.
Aku
sempet jadi petani juga, ikutan panen cengkeh. Pada saat musim cengkeh,
orang-orang akan ke hutan dari pagi jam 6, karena hutannya di atas
gunung, dan kembali ke rumah pada sore hari sekitar jam 5.
Awalnya
aku pikir bakalan kuat jalan karena kebiasaan jalan muter-muter di
mall. Tapi kenyataan berkata lain, jalan ke dusunnya opaku butuh kurang
lebih 1 jam dengan medan yang cukup bikin ngos-ngosan. Pertama kali aku
ke dusun aja butuh waktu 2 jam padahal sepupuku yang emang tinggal
disana bisa sampai dalam 30 menit, beda memang.
Maklum ga bisa liat kamera, niatnya foto-foto malah jadi juru foto. Belom lagi papi sama mami foto ala ala prewed di tengah hutan, hm nasib jomblo mah gini.
Ini lagu diciptain sama putra Haruku, yang nyanyi juga orang Haruku.
Lagu ini merangkum semua tentang Haruku, langsung jatuh cinta :)
Tata bilang ada ikang lompa balumpa
Di air cabang dua ya Nona
Di kampong Haruku
Kalau seng percaya
Datang sandiri ale lia
Carita ini sudah nyata
Sio dari doloe....
Singgah di pinggir pante
Ale angka muka
Tiacigi satu tugu ee
MesterJohanes Latuharhary
Pejuang
bangsa
Di
kanan ada buaya tatanam Kalpataru
Sioale
Satu
lambang kebanggaan katong
Benteng
badiri ta miring-miring
Dipukul
omba seng jadi-jadi
Sama
orang bilang balanda mabo ee
Adalai di sana orang bisa
mandi
Di
kolam air panas ee
Bisa
rabus kasbi jadi lombo
Sama
bubur ee
Dan
juga ada karang laut
Bajejer kiri kanan sio ale
Paser putih
Putih
manyala ee
31 Desember, hari terakhir di Ambon dan harus balik ke Makassar. Tahun baru-an di Makassar, padahal pengen rasain tahun baru di Ambon -_-
Niatnya sih, mulai sekarang tiap tahun harus bisa pulang kampung, semoga deehh..
Maluku, I'm gonna back soon :)
Ga berasa udah 2017 aja..
Udah tahun baruan, tapi resolusi masih aja seperti yang dulu..
Masih harus melanjutkan resolusi tahun lalu yang belom tercapai..
Kudu semangat, setrong, and happy hahaha..
"Kamu gak suka sama dia? Padahal dia lebih baik loh dari pada kakaknya."
"Oya? Baik kek gimana?"
"Kalo kita minta duit ato apalah ke dia langsung dikasih, kalo kakaknya mah boro-boro."
Itu sepenggal percakapan gue sama seseorang, sebut saja Mawar. Jadi ceritanya gue lebih srek sama kakaknya daripada adeknya. Tapi si Mawar lebih suka sama adeknya. Sebenernya ga ada masalahnya sih, cuman si Mawar ini keukeh supaya gue juga suka sama yang adek. Elaaah suka-suka gue dong, kok malah dia yang ribet yah.
Lagian nih yah, menilai kebaikan orang hanya dari pemberiannya? Oh come on, gue gak sepicik dan sematre itu cuy. Kadang gue kesel sama orang yang kayak gitu, iyuwh banget.
Nih yah, gue lebih milih sama orang yang bisa kasih perhatian lebih ke gue dari pada orang yang cuma bisa kasih duit banyak ke gue.
Yah gue gak sekasian itu juga sampe butuh perhatian tapi kalian juga pasti setuju lah sama gue, yang kasih perhatian itu yang lebih bisa menangin hati. Gue bener kan? Udah, iyain aja.
Di lain sisi, kita juga butuh duit dong yah, tapi gak usahlah sematre itu. Lagian kan kita bisa kerja, cari duit sendiri, gak usah jadi benalu gitu di kehidupan orang lain. Mau bilang itu kewajiban dia? Hey, gak usah malu-maluin diri sendiri! Kalo dia suami lo sih oke, tapi kalo bukan? Iyuuwwhh
Ah iya, gue juga denger statement dan biasanya ada di meme, kek gini "Cuma cowok kere yang bilang cewek matre."
Hahaha gue cewek, dan gue paling benci denger cewek yang ngomong gitu. Kesannya bangga banget sama kematreannya itu, memalukan! Dipikirnya itu bagus apa?
Dan balasannya "Cuma cewek kere yang matre."
Hahaha yang ini lucu, mamam tuh. Tapi iya sih, kalo lo tajir ngapain lagi minta-minta ke orang, ya gak?
Trus ada yang membela diri dengan bilang kalo itu realistis bukan matre. Wohooo, wait gals! Realistis dan matre itu beda banget menurut gue.
Cewek matre itu dipikirannya yah fulus aja, semuanya oke asal ada duit. Yang dicarinya sudah pasti cowok berduit, dia gak perlu tulus yang penting fulus lancar.
Dikatakan murahan itu saat sesuatu bisa dinilai harganya dengan uang, semahal apapun itu. Jadi, gak salah kan kalo gue bilang matre itu murahan? Hehe.
Cewek matre itu lebih mentingin keinginannya, trus dibuat sok realiastis supaya lebih menyakinkan korban, haha. Contoh menjijikkannya tuh kek gini, "kamu beliin tas limited edition aja gak mampu, gimana nanti kalau kita udah nikah? Gimana kamu ngehidupin aku dan anak-anak kita kelak?"
Kan kampret, nikah aja belom tapi udah minta macem-macem.
Kalo gue cowoknya, gue beliin deh tuh tas trus gue paketin dia di dalemnya udah itu gue lempar deh ke segitiga bermuda. Kesel gue.
Nah, bedanya kalo realistis itu lebih melihat prospek kedepannya. Halah bahasa gue. Intinya gini, dia gak nyari cowok tajir tapi yang penting punya tujuan dan masa depan yang jelas, dia akan mendukung menuju kemapanan. Kalo dapatnya yang tajir dan suka memanjakan dengan duit, dia akan lebih memberi batasan-batasan pada sesuatu yang dibutuhkan bukan yang sekedar dipengenin.
Hidup memang butuh duit, tapi utamain dulu yang penting, sisanya bekal untuk masa depan. Untuk memanjakan diri sekali-kali gak apalah karena memang itu harus, tapi tidak untuk menjadi gaya hidup.
Gak usahlah sok borju, suka foya-foya ato jago nguras harta tapi pintar-pintar kelola duit, seperti yang orang-orang katakan ~ kehidupan ini berputar, gak selamanya lo di atas ada saatnya lo di bawah juga, begitupun sebaliknya.
Trus, ubah juga mindset lo yang menilai kebaikan atau cinta seseorang berdasarkan banyaknya uang yang dia keluarin untuk lo! Karena orang bisa memberi tanpa mencintai, tetapi orang tidak akan mencintai tanpa memberi.
Sebenarnya cerita awal itu gak ada cinta-cintaannya sama sekali, tapi gak tau deh kenapa penjabaran gue jadinya nyerempet gini.
Tapi yaudahlah, intinya gue kesel sama si Mawar. Udah itu aja.
Bhay!
Seperti biasa di Minggu pagi akan penuh dengan doa-doaku. Sedangkan Jumat siang akan penuh dengan doa-doamu.
Aku sudah terlalu sering meminta, dan untuk kali ini aku tak ingin meminta apapun kepada Tuhan.
Kita tak perlu meminta, Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan. Semisal kamu, ada untuk melengkapiku.
Kita begitu sibuk saling bersyukur, kita begitu sibuk saling mencintai. Hingga lupa harus berhenti.
Yang kita tahu, perbedaan itu ada untuk membuat kita menjadi logis dan lebih dewasa. Kita berbeda, kita indah.
Kita diajarkan tentang kasih dan cinta tetapi ironisnya cinta itu dilarang berakar dan bertumbuh diantara kita.
Kita sudah belajar tabah sebelum kelak berduka.
Kita telah saling melepaskan, sebelum akhirnya jatuh cinta.
Kita mungkin telah sampai di akhir cerita, kelak ketika kau mencintai orang lain tanpa perbedaan.
Tak apa, karena siapa yang dapat melawan takdir?
Jika kita diciptakan untuk bersama, cinta akan menemukan caranya sendiri untuk kembali. Tetapi jika kita tidak untuk bersama, jagalah hatimu untuk tidak jatuh terlalu jauh dan bahagialah dengan yang lain.
Hampir semua orang pasti pernah ngerasain yang namanya putus asa. Capek dan bosan ngelakuin sesuatu yang berasa kayak sia -sia aja. Bahkan, sampai ke titik dimana kita udah stagnan, gak punya ide untuk ngapa-ngapain lagi. Cuma bisa angkat tangan, nyerah, pasrah. Ngomong-ngomong soal nyerah dan pasrah, keduanya punya makna yang berbeda. Kalo nyerah itu di saat kita mundur sebelum melakukan apa-apa atau sebenarnya masih ada cara lain yang masih bisa kita lakuin tapi kitanya keburu mundur. Sedangkan pasrah itu kita udah lakuin semuanya sekuat jiwa raga kita sampai titik darah penghabisan, dan akhirnya kita berserah alias angkat tangan. Pasrah itu bukan mundur, bray, beda! Kalo nyerah itu ibarat kayak kita naroh kemenangan di tangan lawan. Tapi kalo pasrah itu kita naroh harapan di tangan yang memberi kemenangan. Setidaknya, pasrah itu masih bisa berharap dibandingin nyerah yang gak ada harapan sama sekali. Orang yang pasrah sih, satu-satunya cara yang masih sanggup dia lakukan yah doa, doa sampai sesuatu terjadi! Berdoa itu semacam alat cas, kita hp-nya dan Tuhan listriknya. Jadi gimana caranya kita mau dapat daya kalo gak ada alat cas?
***
Note: Duh, gak usah cari kesinambungan yang awal dan akhir, gue juga gak ngerti kenapa jadi lari kesana kemari. Intinya gue cuma mau bilang ini aja sih .. "Disaat semua yang kita lakuin berasa gak ada gunanya, berdoa dan serahin semuanya ke Tuhan aja. Karena kadang juga Tuhan biarin semua terjadi, sampai kita berada di titik terlemah kita dan pasrah sepasrah-pasrahnya padaNya dengan begitu mujizatnya akan semakin besar lagi." Kok gue berasa kayak berkhotbah yah? Aih, parah.
Belakangan ini gue jadi doyan lettering/handwriting. Foto ini salah satu karya gue (bahasa gue macam udah profesional aja, sowreehh), yang ini udah dari 2014 sih tapi baru di foto aja. Kebetulan juga bisa gambarin current mood gue, bhahahk! Sebenernya sih galau gunda gulana sedang melanda. Gue lagi ngerasa yang namanya putus asa. Coba, gagal. Coba, gagal. Coba lagi, gagal lagi. Jalan, mentok. Belok dikit eh mentok lagi. Jatuh, bangun. Usaha terus tapi gitu-gitu aja. Dan akhirnya ya gini, sok-sok nguatin diri sendiri berujung khotbah di blog, apa bangetlah gue. Maapin.